Foto katalog fashion yang didesain supaya mudah menyampaikan informasi. (Sumber: Charisma Rahmat / What's On Pamulang)
Foto katalog fashion yang didesain supaya mudah menyampaikan informasi. (Sumber: Charisma Rahmat / What's On Pamulang)

Brand, toko, atau usaha apapun yang mampu memotivasi pasti berhasil meningkatkan penjualan. Kuncinya terletak pada kemampuan menyampaikan informasi produk.

Ian Moore dalam buku Does Your Marketing Sell? (2005) menegaskan hal tersebut. Dalam buku, dia menyimpulkan, “Semakin mudah seseorang menerima informasi produk, semakin besar kemungkinan produk tersebut terjual laris.”

Bahkan produk yang terkesan biasa saja pun bisa ditingkatkan penjualannya ketika informasi terkait produk tersebut dengan mudahnya sampai ke telinga calon konsumen.

Sumber: tenor.com

Caranya dicontohkan dalam usaha Ian Moore meningkatkan penjualan salah satu bar di Inggris. Bar tersebut tidak menjual bir spesial, tidak pula menyajikan minuman unik.

Bar yang menjadi kliennya saat itu hanyalah bar biasa yang menyajikan minuman biasa yang bisa ditemukan di tempat lain. Promo yang diberikan pun sama dengan bar pada umumnya, yaitu diskon spesial setiap akhir pekan.

Saat itu, Ian Moore memberikan ide supaya bar tersebut mengirimkan semua informasi promo diskon langsung ke ponsel para pelanggan.

Sejak itu, semakin banyak warga yang datang ke bar, bukan hanya untuk minum dan menikmati diskon akhir pekan, melainkan juga untuk mendaftarkan nomor ponsel ke pemilik bar. Harapannya, mereka bisa mendapat informasi promo dengan mudah.

Karena Media Sosial

via tenor.com

Pada belahan lain dunia, Caels Fornel lewat riset “Stock Return on Customer Satisfaction Do Beat the Market,” pada jurnal MSI (2018), menyuarakan pentingnya kepuasan konsumen untuk mendominasi pasar.

Sebab, informasi positif yang tersampaikan dari mulut ke mulut cenderung lebih memotivasi. Contohnya, lihat saat ibu-ibu bergosip tentang tempat makan lucu, atau saat seorang ibu meminta anaknya menggunakan merk deterjen tertentu, atau saat seorang anak SMA merekomendasikan cafe es krim kepada temannya.

Kini, informasi tersebar bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan dari media sosial ke media sosial. Setiap postingan positif tentang sebuah produk merupakan kabar baik bagi penjualan produk tersebut.

Begitu pula sebaliknya. Informasi negatif tentang apapun di media sosial merupakan kabar buruk bagi hal yang sedang dibicarakan.

Pamerkan Kepuasan Pelanggan

Sumber: tenor.com

Dengan media sosial pula, para pelaku usaha dapat mengakali supaya proses “dari mulut ke mulut” dapat digulirkan lebih kencang lagi. Caranya, dengan memamerkan postingan positif pelanggan ke medsos.

Cara tersebut dilakukan SkyPasta Pamulang dan Surabi Teras Ciputat pada akun Instagram masing-masing. Sky Pasta kerap merepost pelanggan yang memberikan pujian di medsos. Sementara itu, Surabi Teras beberapa kali memposting video berisi komentar positif pelanggan.

Dilihat dari jumlah kendaraan pelanggan yang parkir di depan toko dan fakta bahwa kedua kedai masih beroperasi hingga Kamis (6/9/2018), dapat diasumsikan cara tersebut berguna.

“Biar Kayak Orang-Orang”

Sumber: tenor.com

Secara teoritis, teknik pemasaran “dari mulut ke mulut” selalu berhasil karena manusia punya kecenderungan ingin seperti kebanyakan orang. Itu terungkap dalam riset  Jen Cardello berjudul “Social Proof in the User Experience” pada Jurnal Nielsen Norman Group (2014).

Disebutkan, seseorang memiliki kecenderungan kuat mengikuti perbuatan mayoritas demi masuk ke dalam kelompok, demi memenuhi hasrat sense of belonging (rasa untuk menjadi bagian dari sesuatu).

Trik tersebut dilakukan McDonalds di Amerika Serikat, sekitar 1958 ketika membuat iklan bertuliskan, “Lebih dari 100 juta hamburger terjual!” Secara implisit, iklan itu berpesan, “Kamu belum seperti orang-orang kalau belum beli burger McDonalds.”

Dari dunia musik, bahkan promotor Elvis Presley pun membuat album berjudul 50.000.000 Elvis Fans Can’t Be Wrong yang secara samar-samar berpesan bahwa “Kamu belum jadi fans Elvis kalau belum dengar album ini.”

Digerakkan Tokoh

Sumber: tenor.com

Eksperimen Stanley Milgram, 1963 menunjukkan ada satu hal yang lebih berpengaruh daripada word of mouth kebanyakan orang. Yaitu, perintah atau contoh tindakan dari figur publik.

Hasil eksperimen tersebut terbilang menyeramkan. Hampir 2/3 peserta eksperimen mengikuti perintah sosok berpengaruh untuk menyetrum peserta lain yang berbuat kesalahan dalam sebuah kuis.

Kecenderungan seseorang untuk mengikuti sosok berpengaruh itu tentunya bisa diadaptasi dalam bisnis. Itulah peran para influencer di media sosial, atau influencer di lingkungan pergaulan sekitar. Dalam keseharian, influencer bisa juga disebut sebagai “para seleb media sosial.”

Influencer Besar dan Influencer Kecil

Sumber: tenor.com

GetCraft selaku perantara brand dengan insan kreatif digital mengategorikan influencer jadi skala makro dan mikro. Makin besar skalanya, makin besar biaya endorse atau paid promotenya.

Karena itu, pebisnis skala kecil bisa melirik para influencer mikro apabila membutuhkannya. Sementara itu, pebisnis skala besar lebih baik menggunakan jasa influencer skala besar supaya bisa balik modal.

“Influencer mikro merupakan akun perorangan dengan follower berjumlah ribuan,” kata salah seorang kru GetCraft dalam bincang-bincang di Jakarta, Rabu (30/5/2018). Sementara itu, influencer makro merupakan akun dengan follower mencapai puluhan hingga ratusan ribu.

Artinya, gabungan semua cara tersebut memberikan pebisnis skala kecil ruang gerak untuk mengembangkan usaha tanpa perlu terus dibayangi kekhawatiran “ditelan” pebisnis lebih besar.