Kebebasan berinternet di Amerika Serikat terusik. Federal Comunication Commission (FCC) era Donald Trump sedang membahas pencabutan peraturan netralitas internet (net neutrality).

Keberadaan peraturan netralitas mengharuskan tiap penyedia jasa internet (PJI) menyediakan akses tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. Berarti, tiap konsumen dipersilakan memilih PJI masing-masing dan mengakses semua situs yang tersedia, termasuk situs kompetitor PJI tersebut.

Tanpa netralitas internet, tiap perusahaan PJI boleh memperlakukan jasa internetnya untuk mengambil untung sendiri. Akses konsumen ke situs PJI kompetitor bisa diperlambat, dikenai biaya tambahan, bahkan diblokir sepenuhnya.

Contoh fiktifnya di Indonesia

via Istimewa

Contoh fiktif internet tanpa prinsip netralitas akan seperti ini di Indonesia: Pengguna Tel****el dipersilakan mengakses streaming Viu, tetapi harus membayar biaya tambahan bila ingin mengakses Netflix.

Sementara itu, pengguna Ind**at hanya dibolehkan mengakses streaming video iFlix padahal ada acara bagus di Viu sedang tayang. Ketiadaan netralitas internet pun membuat tiap provider memblokir situs populer seperti YouTube atau Instagram, kecuali membayar biaya tambahan.

Tiap perusahaan pun dapat memperlambat akses pengguna internet ke situs tertentu, kecuali pemilik situs tersebut membayar “biaya tebusan.” Kasarnya, PJI bisa “memalak” berbagai situs supaya akses pengguna ke web atau aplikasinya tetap lancar.

Ingat, contoh-contoh di atas hanyalah fiktif untuk mempermudah penjelasan mengenai netralitas internet. Di AS, penyedia internet macam AT&T dan Verizon mampu berbuat hal seperti contoh fiktif itu bila netralitas benar dicabut.

Proposal Ditanggapi Positif

Ajit Pai, Ketua FCC AS. (Sumber: nytimes.com)
Ajit Pai, Ketua FCC AS. (Sumber: nytimes.com)

Proposal pencabutan netralitas internet di Amerika Serikat diusulkan langsung Ketua FCC Ajit Pai, sekitar 21 November waktu setempat. Usulannya didukung dua anggota FCC, sementara dua lainnya menolak menurut laporan NYTimes.com, 21/11/2017.

Berarti, pencabutan netralitas menang suara di FCC. Tinggal dibahas di rapat besar pada 14 Desember mendatang. Proposalnya masih bisa ditolak apabila mendapat pertentangan hukum atau tidak disetujui Presiden Donald Trump.

Menurut proposal, pencabutan itu dibuat karena netralitas internet memerosotkan investasi sektor layanan internet dalam dua tahun terakhir. “Padahal, resesi ekonomi sedang tidak terjadi,” tulis Pai dalam proposal.

Menurut mantan karyawan Verizon itu, netralitas internet membatasi ruang gerak bisnis PJI sehingga tak menarik bagi investor. Dengan disetujui proposal “Order to Restore Internet Freedom,” Pai yakin bisnis jaringan internet akan menggeliat dan mengundang banyak investasi.

Ditentang Banyak Pihak

Peserta demonstrasi pembela netralitas internet menunjukkan meme Ajit Pai. (Sumber: theverge.com)
Peserta demonstrasi pembela netralitas internet menunjukkan meme Ajit Pai. (Sumber: theverge.com)

Meski menguntungkan untuk perusahaan, peraturan itu dinilai merugikan konsumen. Berbagai protes netizen tersalurkan melalui berbagai celah. Situs BattleForTheNet.com mengajak netizen AS menyuarakan protes mereka melalui sambungan telepon langsung ke Kongres AS.

Dalam waktu 24 jam, ada 270 ribu pengakses situs tersebut yang menelepon wakil rakyat, menurut data TheVerge.com, 23/11/2017. Protes lain berlansung lewat petisi di Change.org. Setidaknya, ada tujuh petisi dibuka untuk menolak usulan Ajit Pai.

Meme dan postingan protes netizen pun digencarkan di berbagai forum, seperti 9Gag, Reddit, hingga blog pribadi.

Vice President Facebook Erin Egan lewat siaran pers menyatakan, “Kami kecewa dengan kegagalan FCC membela netralitas yang memastikan internet terbuka untuk tiap orang tanpa pandang bulu.”

Netralitas Internet di Indonesia

Ilustrasi akses internet. (Sumber: genmuda.com)
Ilustrasi akses internet. (Sumber: genmuda.com)

Sejumlah dugaan pelanggaran berbagai PJI terhadap netralitas internet Tanah Air disuarakan di InternetNetral.com. Beberapa kasus yang disoroti situs tersebut, salah satunya dugaan XL memblokir situs MatahariMall.com, sekitar 2016.

Dugaan itu diluruskan pihak XL. Mengutip Beritasatu.com, 4/3/2016, pihak XL menyatakan sambungan ke situs yang dimaksud lancar-lancar saja. “Saya bahkan sering browsing situsnya,” tutur Yessie D Yosetya, Chief Service Management Officer XL.

Ketika itu, XL Axiata memiliki sejumlah saham di situs Elevenia.com, situs e-dagang pesaing MatahariMall.com. Akhir Agustus 2017, XL Axiata melepas sahamnya di situs tersebut.

Beda dari Sensor

Gif via giphy.com

Netralitas internet jelas jauh berbeda dari sensor atau blokir yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Pemblokiran situs yang dilakukan kementerian juga berlaku untuk semua PJI dan konsumen internet secara merata. Kecuali, dengan mengubah pengaturan VPN atau proxy pada gawai.

Tanpa netralitas internet, pemblokiran tersebut juga bisa dilakukan oleh para PJI. Dikhawatirkan, PJI hanya akan membuka situs yang menguntungkan diri sendiri, misalnya dengan menambah tarif akses ke situs populer dan memblokir situs tertentu.

Buat Anak-Anak Pamulang….

via giphy.com

Kepedulian netralitas internet di Pamulang dan Tangerang Selatan (kalau ada) bisa ditunjukkan dengan mengisi petisi online. Namun, efeknya mungkin tidak terasa mengingat pencabutan netralitas internet di AS tidak berdampak langsung ke Indonesia.

Namun demikian, anak-anak Tangsel juga perlu paham biar bisa membela kebebasan internet di Indonesia. Bayangin deh kalau untuk upload foto makanan, posting vlog, dan update status aja harus bayar lebih banyak. Menyebalkan, bukan?