Seorang perempuan tertawa membaca judul berita yang bombastis. (Sumber: Charisma Rahmat / What's On Pamulang)
Seorang perempuan tertawa membaca judul berita yang bombastis. (Sumber: Charisma Rahmat / What's On Pamulang)

Persaingan ketat menyebabkan banyak media online sengaja membuat judul  bombastis, bukan sekadar informatif. Kreativitas sangat dibutuhkan karena pertaruhannya adalah keterbacaan tulisan dan keberlangsungan media.

Data Dewan Pers menunjukkan, ada sekitar 43 ribu media online di Indonesia. Ditambah media cetak, televisi, dan radio, jumlahnya jadi sekitar 47 ribu media. Itu belum termasuk berbagai blog, situs pengepul berita, akun media sosial yang menyamar media, serta media baru yang terus bermunculan.

Dari total media online yang tercatat saja, satu media rata-rata dibaca 6.072 orang. Jumlah itu tidak sampai satu persen dari total 261,1 juta penduduk Indonesia. Dibanding 1,5 juta penduduk Tangerang Selatan pun jumlahnya hanya sekitar 0,4 persen.

Membuat Judul demi Rebutan

via giphy.com

Itulah sebabnya berbagai media online perlu meningkatkan jumlah pembaca, kalau perlu dengan merebutnya dari media lain. Salah satu caranya yakni dengan melaksanakan berbagai kegiatan offline untuk para calon pembaca.

Harapannya, situs makin dikenal sehingga jumlah pembaca terus bertambah. Namun, tidak ada jaminan para peserta kegiatan offline tersebut akan membuka situs ketika sampai di rumah malamnya, besoknya, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Kecuali, mereka diharuskan membuka web tersebut ketika acara.

Cara selanjutnya dilakukan dengan beriklan di berbagai lini, misalnya di media sosial atau di halaman hasil pencarian Google. Namun, iklan bisa dilewati begitu saja karena pengguna internet fokus terhadap hal lain.

Cara apapun yang dilakukan, tiap media pasti memiliki akun media sosial yang fokusnya adalah segera menyebarkan link berita-berita terbaru dan menyebarkan kembali berita dengan topik yang sedang viral.

Berbagai Bentuk Persaingan

sumber: weheartit.com

Pada tahun 2000an, berbagai media online bersaing mengandalkan kecepatan. Informasi tak lengkap dan salah jadi urusan kesekian, asalkan berita terbit dan diposting ke media sosial lebih dulu dari media lain. Berita yang terbit selanjutnya pun bersifat melengkapi sekaligus mengoreksi berita sebelumnya.

Beberapa saat berselang, semua awak media terbiasa mengetik dengan kecepatan relatif sama. Persaingan makin ketat. Membuat judul berita perlu ditata menjadi lebih nge-pop sehingga lebih menarik minat calon pembaca.

Situs pengembangan menulis Hubspot.com secara terang-terangan menganjurkan media online membuat judul yang “seksi.” “Tiap penulis perlu mencari kata yang terngiang bagi pembaca, serta memahami hal yang terpenting bagi mereka,” tulis artikel tersebut.

Hal senada juga tertulis di Goinswriter.com. Disebutkan, sebuah judul perlu menjanjikan sesuatu kepada pembaca dan menuliskannya dengan frasa menarik. Misalnya saja, “Terungkap! Ini Cara Mudah Menjual Rumah Hanya dalam 24 Jam” atau “5 Cara Gampang Ini Bantu Kamu Ciptakan Judul Tulisan yang Kece Badai.”

Jeleknya, berita dengan judul bombastis sering tidak sesuai dengan isi. Judul menjanjikan A, sementara isi menjanjikan B. Hampir semua media online melakukannya, baik sengaja ataupun tidak. Fenomena itulah yang kini sedang diperangi akun Twitter ClickUnbait.

sumber: giphy.com

Penulisan judul bombastis bukan hal baru. Media seperti The SunMetro, dan New York Magazine membubuhi berita dan artikel dengan teknik tersebut sejak bertahun-tahun lalu. Pilihan katanya kemudian berkembang menyesuaikan zaman.

Sekarang, kreativitas media bukan hanya dituangkan pada judul melainkan hingga ke isinya. Sejumlah media dengan format unik bermunculan. Misalnya, Vice Indonesia yang berisi artikel dengan opini menarik yang tersaji dengan paduan kosa kata anak muda.

Atau, Tirto.id yang rajin mengubah data menjadi infografik menarik. Semua itu dilakukan demi dua hal. Supaya netizen tertarik membacanya lalu menyebarkan link beritanya kembali, tanpa perlu kebanyakan menulis berita dengan judul bombastis.

Tak Harus Jualan Informasi

via tumblr.com

Berdasarkan pengamatan redaksi What’s On Pamulang meliput berbagai acara Oppo Smart Phone untuk media lain, brand ponsel tersebut kerap menggunakan jasa kru media untuk melaksanakan kegiatan off-air.

Misalnya, saat Oppo mengundang PSY dalam perayaan ulang tahun ketiga mereka. Terlihat sejumlah kru berseragam NET TV menjadi penyelenggara acara yang berlangsung di ICE BSD, November 2016 itu.

Ada juga Bolatory.com yang jurnalisnya merangkap sebagai karyawan LM Brand Strategist. Dengan berbagai cara, media punya banyak cara mengumpulkan uang hingga miliaran rupiah. Namun, judul menarik juga harus menyesuaikan isinya.