Suasana dalam Linggih House of Coffee. (Sumber: IG @linggihcoffee).
Suasana dalam Linggih House of Coffee. (Sumber: IG @linggihcoffee).

Perasaan senyap dan tentram terbayang saat melihat kedai kopi di tepi Jalan Raya Veteran. Jendela besar perlihatkan tiga barista saling bergurau sementara pintu kaca menghalau sumpeknya kemacetan jalur penghubung Jakarta-Tangsel, Jumat malam (21/7/2017).

Pengunjung yang duduk di bangku teras Linggih House of Coffee habiskan malam bersama teman sambil menghisap vape, menyeruput aneka kopi, menikmati minuman manis, dan mengudap snack. Sementara itu, pengunjung di dalam betah nongkrong berlama-lama.

Lantunan playlist pilihan pemilik kedai, Arikar Nasution dan dua baristanya, Ijam juga Robby pun terbilang tepat malam itu. Meski diputar tanpa tema yang jelas, sejumlah lagu sukses memancing obrolan di antara pengunjung. Misalnya, ketika lagu NSYNC meriahkan suasana.

different method, different temperatures? what do you think?

A post shared by Linggih House Of Coffee (@linggihcoffee) on

Sasha (19), Kus Hartanti (18), dan Nadin (18) berhenti mengerjakan tugas semester pendek yang khusus dibawa untuk diselesaikan di kedai. Sebagai gantinya, mereka membahas boy band populer era 1990an yang besarkan nama Justin Timberlake itu.

Di sela obrolan seru, What’s On Pamulang ikut gabung dan menanyakan pengalaman mereka nongkrong sambil belajar di Linggih House of Coffee. “Gue yang ngajak Sasha dan Hartanti ke sini. Selain dekat rumah, tempatnya sepi dan nyaman,” tutur Nadin yang telah beberapa kali berkunjung.

Sebagai mahasiswi UI penikmat kopi, dia sangat suka manual brewΒ kedai yang berdiri Februari 2016 itu. “Barista di sini tau banget takaran pas ketika gue minta kopi yang light. Rasanya sesuai selera,” tutur Nadin. Kebetulan, para barista tidak mendengar pujian tersebut.

Senada dengan Nadin, Sasha sangat menikmati pesanannya. “Lattenya enak banget. Aku suka,” kata perempuan yang juga merupakan mahasiswi UI itu sambil senyum. Dia bilang, ingin nongkrong lagi ke kedai yang beroperasi pukul 8 pagi – 11 malam itu bersama kawan-kawan lain.

Hartanti pun demikian setelah dia terpincut enaknya minuman cokelat Linggih House of Coffee. “Menurut aku, skornya 7,5 dari 10. Aku rekomendasikan banget!” tuturnya. Dia bilang, rasa minuman cokelat kedai itu sebanding dengan minuman cokelat Dunkin Donuts.

Meskipun demikian, Arikar Nasution sangat merekomendasikan kopi panas tak bergula. Cowok yang baru menjomblo lima atau enam bulan lalu itu bilang, menambah gula pada sebuah kopi sama saja tidak menghargai karya barista.

Promo this week! . Banana Flambe x Cappuccino . only 49k! save 25% your money πŸ‘ŒπŸ½

A post shared by Linggih House Of Coffee (@linggihcoffee) on

“Bayangkan saja! Latte art yang telah susah-susah dibuat langsung rusak ketika dicampur gula, lalu kopinya diaduk. Padahal, menemukan racikan kopi yang tepat saja memakan waktu hingga enam bulan. Membuat latte art pun bukan pekerjaan mudah,” tutur Arikar mencurahkan pengalamannya.

Maklum. Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad itu emosi. Linggih House of Coffee dibuatnya bersama seorang rekanan untuk menyalurkan idealisme. “Gue gak pernah suka mengecewakan orang lain. Makanya, selalu ingin menyajikan yang terbaik,” kata dia.

Untunglah, para pengunjung kedai mulai terbiasa menikmati kopi “ideal.” “Berdasarkan catatan, sebanyak 70 persen pelanggan memesan manual brewΒ sementara sisanya memesan minuman manis dan dingin. Tiap hari, kedai gue dikunjungi sekitar 50 orang,” ungkapnya.

Untuk menggenjot penjualan, tim Linggih House of Coffee telah menyelesaikan racikan es kopi susu. Arikar bilang, “Nama kopinya baru ketemu tadi banget. Yaitu, ‘Kopi Ahay!’ Rasanya bersaing lah dengan Kopi Tuku yang sedang populer.”

“Kalau diprediksi, kedai ini baru balik modal sekitar 2019. Memang sudah jalannya. Nikmati saja proses dan dinamikanya.” tutup cowok yang telah meminjam modal sekitar 300 juta rupiah untuk memperjuangkan idealismenya tersebut.

LOKASI LINGGIH HOUSE OF COFFEE