(Sumber: Pexels.com)
(Sumber: Pexels.com)

Hari Raya Idul Fitri memang sudah berlalu beberapa hari, tapi lebaran sama sekali belum. Setidaknya, sampai orang-orangtua masuk kerja pada 3 Juli nanti dan berhenti maksa anaknya berkunjung ke rumah sanak saudara.

Untunglah ada opor ayam, rendang, tauco, ketupat sayur, dan kue-kue gratisan Lebaran yang bisa mengobati bete akibat efek samping Hari Raya itu. Lebih enak lagi, bisa bertemu tetangga cakep jarang keluar yang akhirnya mau bersilaturahmi.

Sayang, tak semua orang ngerasain rollercoaster mood Lebaran macam itu. Ada yang ngerasa bete sepenuhnya kerena harus tetap tinggal di rumahnya di Pamulang dan harus ngerasain penderitaan-penderitaan seperti di bawah ini:

1. Jalan jadi berputar-putar

Sementara pengendara sebal harus berputar, anak-anak girang jadikan portal sebagai net badminton. (Sumber: YouTube).
Sementara pengendara sebal harus berputar, anak-anak girang jadikan portal sebagai net badminton. (Sumber: YouTube).

Pulang saja jadi repot akibat beberapa ruas jalan yang diportal, terutama jalan dalam kompleks. Perumahan Bukit Pamulang Indah dan Sinar Pamulang adalah salah dua area yang menerapkan prinsip portal-memportal jalan.

Sebenarnya, tujuannya jelas supaya satpam lebih mudah mengawasi arus kendaraan karena lalu-lintasnya direkayasa sedemikian rupa sehingga hanya melewati jalur utama. Efek sampingnya, ya, harus bersedia jalan memutar kalau tak ingin menembus portal.

2. Tempat nongkrong tutup

Beberapa tempat nongkrong yang tutup ketika dikunjungi pada Senin sore (26/6/2017), misalnya Sky Pasta Pamulang, Kedai Sugoi, dan Little Corner. Sudah tak bisa ke mana-mana, tempat nongkrong pada tutup pula. Mati gaya, deh. Di bilangan Pamulang, pilihannya hanya es krim Geometry dan De’pot Suki yang tetap buka.

3. Anehnya, jalanan tetap macet tak tertahankan

Macet di depan Pamulang Square. (Sumber: motorbiru.wordpress.com).
Macet di depan Pamulang Square. (Sumber: motorbiru.wordpress.com).

Pamulang memang aneh tapi nyata, lebih tepatnya di jalan depan Pamulang Square. Suatu ketika pernah ada genangan air tak surut-surut di tengah musim kemarau akibat pembangunan jalan dan perbaikan dinding waduk.

Kali ini, jalan yang sama itu dipadati kendaraan di tengah musim mudik. Penyebabnya: pasar malam yang super laris dibuka di sebelah pusat perbelanjaan yang letaknya di seberang pusat perbelanjaan lainnya. Satu pusat belanja aja macetnya minta ampun. Nah, ini, ada tiga.

4. Mal ramai layaknya pasar

via giphy.com

Suka-tidak-suka, mal dipilih jadi tempat jalan-jalan yang seru, salah satunya karena tak seramai pasar tradisional. Tak perlu berdesakan di gang sempit tanpa pendingin ruangan sambil mencium bau daging, sayur, dan rempah.

Tapi, semua berubah di musim Lebaran. Orang-orang yang tak mudik seperti bersepakat untuk membanjiri mal, seperti yang terjadi di BXChange Bintaro, Tangsel, Senin sore. “Sumpah. Penuh dan sumpek banget,” kata Ramzi (26 tahun), seorang pengunjung mal yang dihubungi, Senin malam. Meski begitu, jelas tak ada aroma daging, sayur, dan rempat di lorong-lorong mal.

5. Teman-teman nongkrong pada mudik

via mashable.com

Situasi Lebaran di Pamulang bisa makin menyebalkan karena tak ada teman nongkrong, yang kebanyakan mudik. Maklum, lah. Pamulang itu identik dengan nongkrong-menongkrong, entah itu di warung kopi kekinian, kejadulan; mal, pasar; atau cafe-cafe yang unch banget.

Bagaimanapun juga, Hari Raya tetaplah hari raya. Perlu disambut dengan hati gembira. Anggaplah lima kejadian menyebalkan di atas sebagai bumbu-bumbu penyedap yang apabila dimaklumi akan menambah pahala.

Kamu punya pengalaman menyebalkan lain berlebaran di Pamulang? Share aja yuk di bawah ini.