Kentalnya nuansa jazz Britamax Tangsel Jazz Festival 2016, Sabtu (12/11) ikut dirasakan pengunjung selain musisi yang tampil. Meski sempat terganggu badai, penonton tetap merespon positif. Harapannya, TJF jadi ajang internasional di kemudian hari.

Festival yang diadakan di Bintaro XChange, Tangerang Selatan (Tangsel) itu siangnya diisi MLD Jazz Project, Kabut Salju Project, Clarice Cutie Kids si penyanyi jazz cilik, dan Big Band ITB. Jelang sore, giliran musisi muda macam Tiyo Alibasjah Group, Alsa Quartet, dan Amelia Ong yang tampil.

Musisi senior Iga Mawarni dan Jeffrey Tahalele menyusul setelah anak-anak muda. Musik yang nuansanya agak nge-blues pun punya ruang di tempat ini. Misalnya saja, Ginda Bestari yang tampil bareng Jonathan Armstrong alias Jono, pemain bass band blues Gugun and the Blues Shelter.

Malamnya, ada KSP Band, Indonesia Youth Jazz (IYJ), Rio Moreno Latin Combo, dan Fariz RM. Glenn Fredly dan GAC disimpan sebagai pemungkas festival jazz ini.

Selera Internasional

Bukan hanya dihadiri warga Jabodetabek, festival ini pun ditonton sejumlah warga luar negeri. Seorang warga Brunei Darussalam, Patrick (24 tahun) turut hadir karena tertarik dengan konsep festival jazz yang ditawarkan.

Ada juga Yo Ikeno (47 tahun) asal Jepang yang tergiur konser ini karena memang dia menyukai segala jenis jazz mulai dari jazz fusion, acid, slow jazz, hingga bossanova.

Terkait konser internasional, Ginda Bestari pun optimis Tangsel Jazz Festival selanjutnya bisa jadi International Tangsel Jazz Festival. Hal serupa pun sempat diucapkan Kepala Divisi Marketing Communication BRI Firman Taufik.

Yang Dewasa Nge-jazz

Kepada What’s On Pamulang, Kepala Divisi Marketing Communication BRI Firman Taufik di sela-sela acara juga bilang festival ini nge-jazz banget. Dia pun suka musik yang dibawakan musisi muda jazzy macam Tiyo Alibasjah Group yang kerap main bareng Iga Mawarni.

Musiknya Amelia Ong yang kerap diberitakan warta jazz pun disukainya. “Tapi, saya kurang ‘masuk’ dengan musik-musik mulai yang ngepop,” kata beliau ketika meninggalkan TJF 2016 sebelum Glenn Fredly dan GAC naik panggung.

Anak Muda Suka yang Ngepop

Kebalikan dari Firman Taufik, anak muda justru suka musisi yang lebih populer. Gaby (20 tahun) misalnya. “Aku kurang kenal dengan artis-artisnya kecuali, Indonesia Youth Jazz (IYJ), Glenn, dan GAC,” tutur mahasiswi Binus International Senayan, Jakarta ini.

Hal serupa juga diucapkan Thifal (19 tahun). Dia bilang, datang ke TJF 2016 untuk temani Gaby menonton Luanada manggung bareng IYJ. “Soalnya, Luanada itu temannya Gaby,” tuturnya.

Dilla (17 tahun) pun seperti itu. “Soal musisinya, aku lebih paham musik-musiknya GAC daripada yang lain,” tutur perempuan yang datang bersama orangtuanya kepada What’s On Pamulang di sela acara.

Sementara itu, orang tua Dilla, Prilly (49 tahun) manfaatkan momen tersebut untuk menonton Iga Mawarni idolanya sekaligus berkumpul bersama kerabat. “Kira-kira ada tiga atau empat keluarga yang datang bersama kami,” tuturnya.

Sempat Ditunda

Meski begitu, kemeriahan TJF 2016 perlu tertunda sekitar satu jam karena badai mendadak ketika sore. Akibatnya, penampilan Jeffrey Tahalele perlu dipotong karena listrik perlu dimatikan supaya tata cahaya dan sound system sebesar masing-masing 60 ribu watt di dua panggung tidak korslet.

Selain itu, musisi-musisi setelah hujan reda agak terburu-buru karena waktu tampilnya dipotong. GAC yang jadi pemungkas pun tidak sempat banyak berbasa-basi dengan pengunjung.