(Sumber: IG @winda_sofvina)
Rumah baca (Sumber: IG @winda_sofvina)

Tempat nongkrong yang juga berfungsi sebagai tempat membaca dan diskusi jarang ditemui di daerah Tangerang Selatan. Padahal, peminatnya mulai tumbuh, terutama di sekitar lembaga pendidikan.

Hal itu disampaikan pengusaha cafe Tangerang Selatan (Tangsel) Yesaya “Jack” kepada What’s On Pamulang di sela pembukaan Rumah Baca di BSD, Sabtu (8/10/2016) lalu.

“Menurut pengamatan saya, di Tangsel jarang ada tempat nongkrong yang jadi tempat baca sekaligus menyediakan buku bacaannya,” ujar Jack. Padahal, konsep cafe seperti itu telah diminati di daerah lain.

Misalnya saja, The Reading Room Kemang, Jakarta Pusat; Comic Cafe Tebet, Jakarta Selatan; Buku Kafe Margonda, Depok; dan Cak Tarno sewaktu masih berdiri di daerah Margonda.

Bahkan sejumlah perpustakaan pun meninggalkan kesan kaku dengan mengubah konsepnya hingga terasa santai. Misalnya saja, Perpustakaan Universitas Indonesia Depok; Perpustakaan Freedom Institute Cikini, Jakarta Pusat; dan Perpustakaan Batu Api Jatinangor, Jawa Barat.

Utamanya Merupakan Cafe

Dengan kondisi itu, Jack yakin Rumah Baca yang baru dibuka untuk Publik pada Senin (10/10/2016) bisa menawarkan pengalaman baru bagi warga Tangsel. Dia menekankan, tempatnya bukan merupakan Perpustakaan melainkan sebuah cafe.

“Buku-bukunya bisa dibaca semua pengunjung di mana saja, bahkan sambil ngemil sekalipun. Asalkan, masih di dalam lingkungan Rumah Baca,” kata Jack menjelaskan sedikit aturan main di cafe barunya itu.

Berhubung target pasarnya merupakan anak-anak usia SMP, SMA, dan kuliah, jajanan di Rumah Baca BSD pun dipatok sekitar 20 ribu hingga 30 ribu rupiah. Menu-menunya merupakan makanan dan minuman standar cafe.

Misalnya saja snack tempe goreng keju, kentang keju, atau risoles. Ada juga menu berat seperti nasi goreng dan soto. Rumah Baca pun menyediakan es krim dan minuman dingin.

Perawatan Buku

Hingga kini, ada sekitar 100 judul buku tersedia di Rumah Baca BSD. Tema koleksinya pun beragam. Ada teenlit, novel, buku sejarah, literatur ilmiah, buku pelajaran sekolah, hingga ensiklopedia.

Berdasarkan pengamatan What’s On Pamulang, Rumah Baca juga menyediakan sejumlah buku sastra klasik. Seperti, buku-buku karya Edgar Allen Poe, Jane Austen, dan Sir Arthur Conan Doyle.

Semua koleksi bukunya tersampul plastik, namun belum diberi nomor katalog layaknya koleksi di cafe baca ataupun perpustakaan. Jack bilang timnya masih mendata buku-bukunya dan menentukan metode perawatan buku yang pas di tempatnya.

“Kami perlu melihat dulu animo warga Tangsel di tempat kami, setelah itu baru bisa menentukan langkah yang tepat,” kata Jack. Dia berharap keputusannya dapat diambil sesegera mungkin.

“Sejauh ini, kami menganjurkan pengunjung untuk menjaga kerapihan buku. Misalnya, melarang halus untuk tidak membuka buku dengan tangan yang kotor bekas makan atau minum,” kata Jack.

Dia berharap, dialog seperti itu bisa memupuk kesadaran warga Tangsel, terutama anak muda yang jadi target pasar utama untuk lebih menghargai sebuah karya cetak bukan hanya dari segi kebersihan melainkan juga hak ciptanya.

Sebab, buku-buku yang ada di Rumah Baca BSD merupakan buku asli. Jack dan timnya pun lebih memilih mencari buku bekas daripada memfotokopi atau mencetak buku bajakan.

Kerjasama dengan Penerbit

Untuk melengkapi koleksi di tempatnya, Rumah Baca BSD telah menawarkan kerjasama dengan salah satu penerbit dan toko buku nasional. “Sinyal positifnya telah ada, namun belum ada jawaban resmi,” kata Jack.

Jack berharap, tempatnya bisa menyeimbangkan kehidupan online dan offline anak-anak muda yang mengunjungi cafe di depan Sekolah Ola Et Labora BSD ini. Karena konsepnya unik dan tempatnya strategis, Jack optimis cafenya bisa diterima warga Tangsel.