(Sumber: Istimewa)
(Sumber: Istimewa)

Peneliti Indonesia kesulitan mewujudkan hasil penelitiannya menjadi sebuah produk layak pakai. Komitmen pemerintah yang dirasa kurang membuat penelitian perguruan tinggi Indonesia berakhir sebatas tulisan.

Itu diungkap Rektor ITS dalam Tangerang Selatan Global Innovation Forum di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Selasa (20/9/2016). Pemerintah diharapkan lebih aktif memfasilitasi peneliti, terutama yang berbasis di perguruan tinggi (PT).

“Pemerintah perlu berkomitmen memfasilitasi hilirisasi riset, mengingat akses perguruan tinggi tidak sebesar kementerian terkait,” kata Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Joni Hermana seperti dikutip Harian Kompas, Selasa itu. Beliau merasa urusan pemasaran jadi kendalanya.

Rektor ITS Joni Hermana dalam sebuah forum akademisi nasional. (Sumber: unair.ac.id)
Rektor ITS Joni Hermana dalam sebuah forum akademisi nasional. (Sumber: unair.ac.id)

Berakhir di Tangan Perusahaan Asing

Peneliti ITS pernah mengembangkan pengontrol pengapian dan sistem injeksi mesin bensin (IQUETECHE) yang hemat konsumsi bahan bakar. Alat itu bisa dipasang di motor ataupun mobil. Bukannya membesarkan nama ITS, penelitian itu malah berakhir di tangan perusahaan luar negeri.

Ketika itu, ITS belum berstatus badan layanan umum sehingga tidak leluasa menggunakan dana yang dihimpun. Mereka kemudian melibatkan alumni sebagai sumber pendanaan. Setelah dimodali, Daytona membeli produk itu.

ITS tidak dapat bagian hasil penjualan, sementara alumni yang memodali hilirisasi IQUETECHE lah yang mendapatkannya. Karena pengalaman itu lah, Joni merasa komitmen pemerintah kurang terutama terkait pemasaran produk penelitian lokal.

Daytona merupakan produsen spare part motor dan mobil. Perusahaan itu telah cukup besar hingga mampu mendanai balapan NASCAR bahkan mensponsori sebuah pantai wisata. (Sumber: sportingnews.com)
Daytona merupakan produsen spare part motor dan mobil. Perusahaan itu telah cukup besar hingga mampu mendanai balapan NASCAR bahkan mensponsori sebuah pantai wisata. (Sumber: sportingnews.com)

Memang Belum Optimal

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe dikutip Kompas mengatakan, “Penyerapan hasil riset PT oleh industri di Indonesia memang belum optimal.”

Dia justru mendorong PT memiliki lembaga hilirisasi sendiri. Dengan kata lain, PT lah yang diharapkan mewujudkan hasil penelitiannya hingga tahap produk siap pakai. Wujudnya bisa berupa teaching factory (pembelajaran berbasis produksi), inkubator bisnis, atau kantor transfer teknologi.

Joni merasa hal itu belum cukup. Kemenristek dan Dikti perlu memberi panduan jelas terkait sistem manajemen inovasi. Staf ahli bidang akademik Kemenristek dan Dikti Paulina Pannen mengatakan, pemerintah telah berkomitmen mendukung hilirisasi riset PT.

Mereka telah mendanai, mendukung regulasi, dan menjembatani peneliti dengan industri. “Saat Ditjen Penguatan Inovasi telah memilih 900 publikasi penelitian dari ribuan penelitian dosen. Semuanya siap dihilirisasi,” kata Paulina seperti dikutip Kompas.

Hilirisasi Berbasis Netizen

Di sisi lain, ada sejumlah situs crowdfunding di internet yang salah satu fungsinya untuk mendanai sekaligus memasarkan produk baru. Cara itu kerap dipilih sejumlah netizen di luar negeri untuk mendanai inovasinya.

Misalnya saja “Oculus Rift” yang dana awalnya didapat setelah didaftarkan ke KickStarter.comsebuah situs crowdsourcing. Netizen bisa menyumbang atau memesan perangkat game VR itu lewat situs tersebut.

Seorang perempuan sedang mencoba menonton film di Occulus Rift. Dengan perangkat VR itu semua gambar yang muncul terlihat 4D. (Sumber: kickstarter.com)
Seorang perempuan sedang mencoba menonton film di Occulus Rift. Dengan perangkat VR itu semua gambar yang muncul terlihat 4D. (Sumber: kickstarter.com)

Bahkan nama Oculus Rift pun sempat tenar ketika halaman KickStarter-nya viral di kalangan gamers. Perangkat VR perdana itu kemudian masuk kedalam nominasi inovasi gaming terbaik menurut Electronic Entertainment Expo (E3) 2012.

Kampanye Oculus Rift di KickStarter berhasil. Berdasarkan keterengan di KickStarter.com, Selasa (27/9/2016), ada 2.437.429 dollar AS (sekitar 31,7 miliar rupiah) yang terkumpul dari 9.522 netizen untuk mendanai produksi awal perangkat VR itu.