Tingginya mobilitas dan selera pelanggan di era modern jadi poin penting yang perlu diperhitungkan dalam sebuah restoran. Kombinasikan menu khas Timur-Barat dengan wadah plastik cepat saji, Cafe On The Go Pamulang, Tangerang Selatan coba penuhi kriteria pelanggan kekinian itu. 

Berbagai kreasi crepes dan sop durian jadi menu unggulan di tempat nongkrong itu. Berbeda dari yang biasa ditemui di pasaran, kulit crepes On The Go disajikan lembek. “Sebenarnya, ini menu crepes tradisional yang biasa disajikan di Perancis,” kata Agni Raraswulan (23 tahun), salah satu pendiri di cafenya, Sabtu (16/7/2016). 

Ketika itu, On The Go sedang mengadakan Grand Opening. Pengunjung yang membeli crepesnya bebas membayar sesuka hati. Hadir pula Dias Betong mengisi acara dan Audri Ferainy Iswandari, partner sekaligus kolaborator pendiri cafe itu.

Meski lain dari selera publik, Agni yakin crepesnya tetap bisa diminati. Dia bilang, rasa adonannya telah disesuaikan selera pasar di Tangerang Selatan. “Namun, crepes tetap bisa dimasak hingga kulitnya kering. Hanya, jangan lupa bilang waktu memesan menunya,” kata Agni. 

Bagi Agni, membuat tempat makan dengan menu crepes merupakan hal baru. Sebelumnya, dia telah membuka cafe dengan menu kopi dan camilan. “Aku memang biasa bikin crepes seperti ini buat sarapan, jadi kenapa engga aku jual saja?” ujarnya. 

Seperti halnya Agni, Audri pun berpengalaman mengelola bisnis di bidang food and beverages. Sebelumnya, dia merupakan pendiri sekaligus pemilik Durianese, sebuah outlet sop durian. Namun, bisnisnya ketika itu hanya berjalan di festival-festival, atau dijual online sesekali. 

“Dorongan membuka tempat sendiri makin besar, baik yang datang dari diri sendiri atau orang dekat. Karena itu lah saya akhirnya mencari partner. Kebetulan, bertemunya dengan Agni yang punya cita-cita serupa. Berhubung kami sudah kenal sejak kuliah di IKJ dulu,” kata Audri bercerita. 

Secara Harfiah On The Go 

Meski kini telah memiliki tempat sendiri, Audri dan Agni masih menggunakan peralatan cepat saji, seperti mangkuk, sendok, dan gelas plastik sekali pakai. Berbeda dari tempat nongkrong lain yang memilih menggunakan perkakas standar restoran yang dapat digunakan kembali. 

“Tempat ini memang berkonsep  seperti itu. Sesuai dengan namanya, makanan dan minuman di sini bisa dinikmati on the go, sambil jalan,” kata Agni. Audri menambahkan, “Lagi pula, rasanya belum ada tempat nogkrong di Pamulang yang punya kombinasi menu dan konsep restoran seperti ini.” 

“Awalnya malah kami mau buka semacam food truck yang stay di satu tempat,” timpal Agni. “Tapi, cita-cita kami kan membuka tempat nongkrong sendiri. Jadi, ide itu disimpan dulu sementara waktu ini. Untung saja masih ada ruko kosong di tempat yang strategis seperti ini” Kata Audri menjelaskan. 

Terkait lokasi, On The Go memang berada sekitar 300 meter dari Universitas Pamulang. Selain itu, tempatnya juga dekat dengan perumahan Pamulang Permai. Lebih detilnya, tongkrongan baru itu ada di belakang EarHouse, masih satu deretan dengan MOR Store Pamulang. 

Respon Positif 

Dari 27 Juli hiingga waktu Grand Openingnya 16 Juli 2016, tempat nongkrong itu dikunjungi sekitar 50-60 orang tiap harinya. “Tidak semuanya mahasiswa atau anak muda. Ada pula ibu-ibu dan bapak-bapak yang membawa keluarganya di sini,” kata Agni. 

Ketika jam sibuk, bahkan sampai ada lima hingga tujuh rombongan pelanggan yang mengantri di luar sana. “Mau bagaimana lagi. Tempat ini baru bisa menampung sekitar 40 orang. Semoga saja bisa ditambah supaya antreannya makin pendek,” kata Audri. 

Menurut penuturannya, malah ada sejumlah pelanggan yang terlihat bolak-balik di tempat itu beberapa kali dalam seminggu. “Kami sebenarnya tidak mempermasalahkan kalau ada pelanggan yang berlama-lama di sini. 

Peningkatan Berkala 

Ketika dikunjungi tim What’s On Pamulang, cafe itu masih belum rampung dekorasinya. Temboknya masih polos dicat hitam. Ketika dikonfirmasi, Audri pun bilang kalau nantinya memang bakal dimural dengan gambar ataupun typography. 

Agar namanya tidak tenggelam dari nama-nama tempat nongkrong lain yang lebih lama berdiri di Pamulang, Agni dan Audri mencoba strategi pemasaran lain. Sosial media, flyer, dan dekorasi tetap diperhitungkan. Namun, Agni berencana mengadakan kegiatan rutin di cafenya.

“Berhubung saya lulusan perfilman IKJ, kemungkinan saya akan adakan acara nonton bareng dan talkshow dengan sutradara, artis, atau kru film itu ke depannya. Tentu saja film-film Indie yang jadi fokusnya, mengingat banyak karya film Indie Indonesia yang bagus namun jarang dapat sorotan,” kata Agni. 

“Itulah sebabnya, kami optimis karena kami yakin di Pamulang belum ada tempat nongkrong dengan konsep seperti ini,” pungkas Audri. Pengalaman Agni mengelola tempat nongkrong dan pemahaman Audri mengenai selera pasar di Tangerang Selatan jelas jadi paduan yang membuat mereka berdua optimis.