Delapan belas tahun lalu, tepatnya Mei 1998, sejumlah demonstrasi, kerusuhan, dan penjarahan terjadi hampir serentak di Jabotabek. Pusat perbelanjaan Tomang Tol yang kini menjadi lahan kosong di depan Pamulang Square menjadi saksi bisu peristiwa tersebut di Tangerang Selatan.

Penjarahan dan pembakaran pusat perbelanjaan tersebut terjadi akibat terprovokasinya sejumlah warga. Kerusuhan itu merupakan efek bola salju dari tertembaknya empat mahasiswa Trisakti yang sedang aksi damai di dalam kampusnya, 12 Mei 1998.

Warga dan mahasiswa yang berkumpul untuk bersimpati kepada empat mahasiswa yang tertembak itu sekaligus berdemonstrasi berusaha meminta Presiden Soeharto yang ketika itu berkuasa lebih dari 30 tahun untuk mundur dari jabatannya.

kerusuhan mei 1998
Sumber: liputan6.com. Sejumlah warga menjarah dan menghancurkan barang-barang elektronik sepanjang kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan itu banyak terjadi di Jabotabek. Sekolah, toko, kantor, dan kegiatan lain di kawasan itu tutup akibat kerusuhan.

Demonstrasi kemudian berujung rusuh tanpa alasan yang jelas ketika datang sejumlah oknum yang merusak toko, kemudian menjarahnya. Warga yang berbaur dengan massa demonstrasi terpancing, lalu ikut menjarah. Barang-barang elektronik menjadi sasaran utama.

Ketika itu, barang elektronik sangat bernilai mengingat krisis ekonomi yang menimpa saat itu sangat membatasi daya beli warga.

#MasihIngatMei

Ini Narasumber kita. Namanya Yunita saat Mei 98 dia masih di bangku sekolah dasar. Yang dia ingat saat peristiwa itu adalah sekolah yang mendadak dibubarkan. Massa yang bukan main banyaknya memenuhi jalanan dan menjarah pertokoan. Menurut penuturannya, banyak pedagang yang bangkrut pasca kejadian karena modal mereka hancur. Banyak pemilik rumah menulisi rumahnya dengan tulisan ” milik pribumi”, “muslim” , ” milik haji…”. Yunita sendiri tinggal dekat kawasan Jakarta kota. Tetangga – tetangganya yang mayoritas muslim melindungi mereka. Dari situ terkuak fakta bahwa yang menjarah sebagian besar bukan warga sekitar. Ada yang memprovokasi untuk merusak dan menjarah. Mbak Yunita menambahkan keterangan ” ya kamu pikir aja, lagi krismon tiba-tiba tetangga kamu bawa komputer, dan dia bilang dia ngambil di toko orang karena diajak, ya siapa yang gak mau”. #history #sejarah #historyinc #sejarahindonesia #masihingatmei #kenalikotamu #glodok #mei98

A photo posted by Sejarah bisa dipopulerkan. (@history_inc) on

“Bayangkan saja. Saat krisis moneter, tiba-tiba tetangga kamu bawa komputer dan dia bilang diajak ambil itu dari toko orang. Siapa yang tidak tergiur,” kata Yunita, saksi Sejarah Reformasi Mei 1998 ketika menjadi narasumber dalam Jakarta City Tour #MasihIngatMei, seperti yang disampaikan koresponden History-Inc, Fachmi Ardhi, Minggu (22/5/2016).

Tur itu diadakan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) untuk memperkenalkan sekaligus mengenang sejumlah lokasi yang dinilai sebagai tempat pelanggaran HAM di bulan Mei.

Situs Portal Kantor Berita Radio (portalkbr.com) menyatakan, selain penembakan empat mahasiswa Trisakti itu, masih ada sejumlah pelanggaran HAM lain yang terjadi di bulan Mei.

“Misalnya, tragedi pembantaian Simpang KKA Aceh, 3 Mei 1999 dan pembunuhan aktivis buruh, Marsinah, 8 Mei 1993. Ada pula tragedi Jambu Keupo, Aceh, 17 Mei 2003,” tulis portal berita itu.

Dalam bincang Ruang Publik di radio KBR, Jumat (20/5/2016), Anggota Biro Kampanye dan Jaringan Kontras Ninis Rina menyatakan, “Jakarta punya sisi yang belum diketahui orang banyak. Tur ini diadakan salah satunya agar peserta tidak hanya mengetahui informasi dari twitter atau buku, namun bisa merasakan suasananya di lokasi.”

Sebanyak 40 peserta tur itu pun berkeliling di kawasan Tanjung Priok, Pasar Glodok, Universitas Trisakti, Makam Pramoedya Ananta Toer, dan Kantor Kontras. Bukan hanya itu, sejumlah saksi sejarah pun dihadirkan untuk mengisahkan pengalaman dan suasana yang suasana yang mereka rasakan ketika kejadian berlangsung.

Selain Yunita, hadir pula Nurhayati, anak dari korban kasus pelanggaran HAM penembakan demonstrasi warga di Peristiwa Tanjung Priok 1984. Peristiwa itu diawali dengan demonstrasi ribuan warga muslim di depan Kantor Kodim Jakarta Utara.

Demonstrasi itu terjadi karena sejumlah hal. Yakni, menolak pancasila sebagai asas tunggal, memprotes tentara yang masuk masjid tanpa melepas alas kaki berdasarkan laporan warga, dan menuntut dibebaskannya empat pengurus masjid yang membakar motor tentara tersebut.

Warga terus berdatangan hingga terkumpul 1.500 massa. Akhirnya, pihak militer terpaksa meletuskan senapan untuk meredam aksi massa. Ribuan orang pun menjadi korban peristiwa penembakan. Peristiwa itu pun menjadi kasus pelanggaran HAM.

Belajar dari Sejarah

Terlepas dari isu dan kesimpangsiuran informasi mengenai kasus pelanggaran HAM di Indonesia, koresponden History-Inc Fachmi Ardhi yang menghadiri tur tersebut menyatakan, “Pola-pola kejadiannya serupa. Warga menentang pemerintah, berdemonstrasi, terprovokasi oknum, kemudian terselesaikan dengan berdarah.”

Menurut dia, masyarakat umum sebaiknya juga aktif mengkaji peristiwa-peristiwa tersebut. “Tanggung jawab sejarahnya ada di semua pihak. Dengan begitu, tiap elemen masyarakat, termasuk warga, akademisi, dan pemerintah tidak akan mengulangi kasus pelanggaran HAM seperti ini,” kata Fachmi menjelaskan.