Inovasi sosial yang merupakan kunci pembuatan bisnis berdampak positif di Indonesia dinilai berjalan lambat. Peningkatan profit masih menjadi fokus pelaku usaha, sementara solusi untuk kemanusiaan terkadang terlupakan.

Itu merupakan salah satu pembahasan dalam diskusi bertajuk Membangun Ekosistem Bisnis Sosial (Building Sociopreneur Ecosystem) yang diadakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangsel (Bappeda Tangsel) dengan Tangsel Creative Foundation (TCF), di Bintaro, Rabu (6/4/2016).

Dalam acara itu, hadir pula Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Tangsel (DKPP) Mochamad Taher; Deputi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Sungkari; dan sejumlah pelaku bisnis sosial dan akademisi.

Kepala Jurusan Technopreneurship Surya University Dessy Aliandrina kepada What’s On Pamulang menyatakan, pelaku usaha di Indonesia masih memisahkan kegiatan usahanya dengan kegiatan berdampak positif untuk warga dan lingkungan.

Ketika mendengar kata bisnis sosial, warga cenderung menyamakannya dengan kegiatan beramal yang dilakukan tanpa profit. “Padahal, tujuan bisnis sosial justru mencari profit dengan cara menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungannya,” kata Dessy.

Dia memberikan contoh produsen plastik toilet di Kenya. Produsen itu membuat plastik mudah terurai sebagai kantung sanitasi yang dapat digunakan warga Kenya daripada harus buang air di tanah atau pelataran.

“Idenya sederhana. Orang bisa buang air di plastik tersebut, membungkusnya, dan menguburnya di tanah tanpa perlu khawatir mencemari sungai atau air tanah. Plastik dan kotoran yang terkubur kemudian berubah menjadi pupuk alami,” kata Dessy.

Kesulitan Pemodal

Hal tersebut juga diakui Dondi Hananto, salah satu founder perusahaan penyedia modal Kinara Indonesia. Dia menyatakan, “Ide bisnis sosial sekarang memang banyak bermunculan. Namun, tidak semua ide tersebut terukur, dapat dijalankan, dan layak dimodali.”

Itulah sebabnya, sejumlah perusahaan pemodal (venture capital) banyak bekerjasama dengan pihak lain untuk membuat program inkubasi bisnis yang kreatif. Dengan begitu, pelaku usaha dapat diarahkan membuat model usaha yang menarik, menguntungkan, sekaligus menyelesaikan isu sosial.

“Jadi, jawablah pertanyaan umum ‘permasalahan apa yang akan saya atasi dengan produk saya?’ sebelum mulai memproduksi usaha,” kata Dondi berpesan kepada semua pelaku usaha yang hadir dan kebanyakan bertanya-tanya mengenai cara mendapatkan modal.

Sementara itu, Dessy mengingatkan, “Bukan hanya mengajari caranya membuat bisnis kreatif yang memanfaatkan teknologi, semua kegiatan inkubasi dan mentoring juga perlu merangsang kemunculan inovasi sosial.”

Dia melanjutkan, dengan kata lain butuh kerjasama antara unsur pemerintah, pengusaha, pemilik modal, pengusaha, publik, hingga instansi keuangan untuk membangun ekosistem yang mendorong kemunculan inovasi tersebut.

Sampah di Tangsel

Kepala DKPP Tangsel Mochamad Taher menyatakan, pihaknya membutuhkan inovasi sosial untuk meringankan permasalahan sampah di Tangsel. Berdasarkan data DKPP tahun 2015, Tangsel memproduksi setidaknya 808 ton sampah perhari.

“Dari seluruh jumlah harian itu, sebanyak 474 tonnya tidak tertangani,” kata Taher menjelaskan. Diharapkan, inovasi-inovasi sosial dari warga Tangsel dapat menguraikan permasalahan tersebut.

Dondi Hananto menyatakan, “Yang dibutuhkan adalah ide pengolahan sampah dan daur ulang yang baik. Bukan hanya pengangkutan sampah dari tempat tinggal lalu berakhir menumpuk di Bantar Gebang.”