Meski terkesan memiliki kepribadian yang berapi-api dan belum stabil, remaja tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Untuk menetralkan kecenderungan itu, orang tua butuh juga memberikan pengakuan.

Hal itu merupakan rangkuman rilis yang diterima What’s On Pamulang dari Up Worthy dan Majalah Psychology, Senin (29/2/2016). Berikut ini adalah ringkasan isi kedua rilis tersebut yang dapat dilihat di situs masing-masing.

Dengarkan Kisahnya

Christie Halverson akhir minggu lalu di situs Up Worthy menuliskan, hal terpenting yang perlu dilakukan orang tua kepada anak remajanya bukanlah memberi nasihat setiap saat, melainkan mendengarkan cerita anak.

“Ketika anak pulang sekolah dan bercerita, itu adalah momen penting. Perhatikan ceritanya dan jangan langsung berikan nasihat tanpa diminta. Itu membuat mereka merasa dihargai. Bukankah kita semua ingin dihargai?” tulis Christine.

Hal serupa juga disebutkan Penasihat Rumah Tangga Parentline Plus Suzie Hayman, di situs Psychology. Dia menuliskan, mendengarkan adalah cara terbaik untuk memahami remaja yang sedang tidak menentu. “Jadi, diamlah dan dengarkan ketika anak remaja sedang meluapkan keluh-kesahnya,” tulis Suzie.

Seperti halnya Christine, Suzie juga berpendapat para orangtua perlu menanamkan kepercayaan diri kepada anak-anak remaja mereka. Sebab, siapa lagi yang akan menyemangati anak-anak remaja di tengah dunia yang penuh catatan muram selain orang tua mereka.

Tegas Bukan Mengekang

Namun, bukan berarti orang tua perlu memanjakan dan berkata “ya” untuk setiap permintaan anak. Christina menyatakan, orang tua perlu menetapkan sejumlah peraturan yang sama sekali tidak boleh dilanggar anak. Baginya, konsumsi rokok dan alkohol adalah larangan itu.

“Lakukan itu untuk menyelamatkan kesehatan dan psikologisnya,” tulis Christina dalam situs media tersebut. Bagaimanapun juga, orangtua tetap perlu menjalankan peran kontrolnya.

Hal serupa juga disampaikan Suzanne Franks, penulis “Get Out Of My Life, But First Take Me And Alex Into Town.” Suzane menganjurkan, orangtua jangan terlalu mempermasalahkan anak remajanya, meskipun cara berpakaian, cara bicara, dan kebiasaan mereka terkesan ganjil di mata orangtua.

Dia berpendapat, “Ketika tidak dikekang, anak-anak remaja justru malah sama sekali tidak liar ataupun berpesta tiap malam.”

Berbagi Kisah

Dalam situs Psychology, Penulis “The Terrible Teens” Kate Figes berpendapat, orangtua juga perlu berbagi kisah dengan anak remajanya. “Itu perlu untuk menjaga hubungan orangtua dan anak,” tulis Kate.

“Kalau perlu, ceritakan juga kecerobohan-kecerobohan yang pernah dilakukan orangtua ketika remaja. Dengan begitu, anak bisa merasakan kemiripan yang ada dan memahami orang tua,” tulis Kate.

Jenni Trent Hughes, Penulis “Tough Talk Made Easy” dalam tulisan di situs itu menambahkan, orangtua perlu menggunakan cara yang familiar dengan anak remaja untuk membuat mereka nyaman bercerita.

Dia bercerita, pernah memulai suatu percakan penting dengan anak remajanya lewat pesan singkat, padahal anak itu berada di ruang sebelah. Setelah itu, anaknya baru mau menceritakan permasalahannya langsung bertatap muka.

Pasalnya, anak-anak remaja masa kini memang lebih memilih meluapkan pembicaraan penting lewat pesang singkat atau perantara media sosial. “Anak remaja sekarang justru akan langung cemberut ketika orangtua memerintahkan mereka untuk bercerita,” tulis Jenni.