Ketiadaan pengetahuan dan pengalaman tidak menghambat seseorang berkreasi, bahkan membuka sebuah usaha. Minat dan semangat berkembang yang tinggi mampu menutupi segala kekurangan yang ada.

Ruth Thresia Yunita membuktikan hal tersebut. Perempuan berusia 28 tahun itu nekat membuka usaha custom cakenya sendiri pada Januari 2015 tanpa sedikitpun pengalaman bisnis, membuat, apa lagi mendekorasi kue.

“Modal utamanya, kesukaan saya terhadap custom cakes dan semangat saya untuk terus belajar,” kata Ruth kepada What’s On Pamulang, Kamis (25/2/2016). Pekerjaannya sebagai penjual mobil-mobil mewah pun rela ditinggalkan demi membuka usaha.

Setelah itu, Ruth mulai mencari informasi tentang cara membuat dan mendekorasi kue dari sumber manapun yang bisa ditemukannya. Pemilik usaha Uthie Creamy Land itu pun pada awalnya berani bertanya tips-tips membuat kue kepada salah satu pembuat kue ternama Indonesia lewat sebuah aplikasi sosial.

“Akan tetapi, jawaban yang diberikannya terlalu umum. Intinya, beliau meminta saya untuk terus belajar. Selanjutnya, ilmu-ilmu membuat dan mendekorasi kue saya dapatkan dari YouTube,” kata Ruth bercerita.

Berawal dari membuat cupcakes dan pemasaran dari mulut ke mulut, Uthie Creamy Land dibesarkan Ruth hingga akhirnya mampu memiliki situs dan ribuan followers di Instagram. “Semuanya dilakukan bertahap. Membeli peralatan dekorasi pun secara bertahap,” kata Ruth.

Berani Tegas

“Biar saja. Apa salahnya berjualan kue,” kata Ruth menegaskan. Terkait peralihan profesinya, Ruth menyatakan ekonomi buruk yang dirasakan pada akhir 2014 mendorong dia untuk membuka usaha sendiri.

Bagi perempuan tanpa gelar sarjana ini, keputusannya itu justru membuatnya bertahan di tengah sulitnya ekonomi Indonesia. Dia merasakan peminat custom cakenya terus bertambah, bahkan sekarang sudah merambah hingga ke Bandung.

Semakin banyak pelanggan tentu membuat Ruth memiliki semakin banyak kisah menarik, apa lagi soal pelanggan-pelanggannya. Tidak jarang, Ruth dibuat geram karena tingkah laku pelanggan yang beraneka ragam.

“Yang paling bikin keki itu adalah pelanggan yang hit n run, yang hanya bertanya harga. Rasanya seperti diberi harapan palsu. Sekarang, saya tegaskan saja ke pelanggan untuk melihat harga di website. Jadi, saya bisa menyelesaikan pesanan yang menumpuk,” tutur Ruth.

Pasalnya, membuat dekorasi kue hingga membentuk tokoh animasi, hewan, dan manusia-manusia chibi yang imut cukup menguras waktu dan konsentrasi. Untuk mendekorasi kue, Ruth membutuhkan waktu antara dua hingga empat jam, tergantung tingkat kesulitannya.

Lebih Suka Pemasaran Online

Berdasarkan pengalamannya, pembeli-pembeli custom cakenya berdatangan karena melihat foto-foto dari jejaring sosial dan website Uthie Creamy Land. Dia pun lebih memilih memasarkan produknya secara digital.

“Beberapa waktu lalu pernah ikut bazaar, namun hasilnya kurang memuaskan. Mungkin karena pembelinya tidak sesuai, tidak seperti netizen yang memang gemar custom cake,” kata Ruth menjelaskan.

Aplikasi-aplikasi kurir mobil online pun digunakannya untuk mempermudah proses pengiriman barang. Kue yang dikirim pun akan tetap aman bentuknya.

Tahap demi tahap berhasil dilaluinya karena berani bertindak untuk mewujudkan ide-idenya. Ditambah keyakinan, Ruth berani bersaing dengan toko-toko lain yang lebih besar dan lebih banyak gerainya.

“Yang penting memang itu. Bertindak. Memikirkan kemungkinan terburuk dan memiliki plan b, c, d itu sah-sah saja. Namun, jalankan dulu plan a-nya. Lakukan semaksimal mungkin dan terus belajar seiring perkembangan,” tutur Ruth.