Menjadi relawan pendidikan merupakan cara yang dipilih Indira (26 tahun), seorang perempuan muda Indonesia untuk mengisi liburannya. Jarak 50 kilometer dari Bekasi ke Pamulang pun ditempuhnya untuk mengajar.

Di luar waktu mengajarnya, Indira sibuk menjadi pegawai perusahaan minyak Petro-Canada di Alberta, Kanada. Alasan jarak itulah yang membuat Indira hanya bisa membaktikan dirinya untuk mengajar ketika libur.

Ketika ditanya alasannya tidak berjalan-jalan di negara bersalju itu seperti halnya yang dilakukan perempuan lain ketika berlibur, Indira menyatakan, tidak banyak rekreasi yang bisa dinikmati di tempat dingin seperti Kanada.

“Tidak bisa main air seperti di Indonesia. Pemandangan di Kanada hanya bisa dinikmati lewat mata saja. Tidak seperti di Indonesia. Kita bisa bermain air dan melakukan hal lain tanpa perlu menggigil beku,” kata Indira, Jumat (19/2/2016) di Outlet Yayasan Bekas Beramal (YBB), Pamulang, Tangerang Selatan.

Namun, kecintaannya pada Indonesia dibuktikan lebih jauh dengan meluangkan waktunya menjadi relawan pendidikan dan mengajar anak-anak asuh YBB di Pamulang, padahal perempuan ini tinggal di daerah Bekasi, Jawa Barat sekitar 50 kilometer jauhnya dari Pamulang.

Memiliki pengalaman mengajar Bahasa Indonesia untuk orang-orang Jepang, Lulusan Universitas Darma Persada (Unsada) ini menyatakan, menjadi relawan pengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak usia 8 tahunan merupakan pengalaman baru.

“Yang jelas, saya perlu mengajar mereka dengan cara yang menyenangkan. Mungkin dengan bernyanyi dan memperkenalkan dasar-dasarnya terlebih dahulu,” kata perempuan itu.

Akademi Berbagi

Selain Indira, ada pula Ainun Chomsun (41 tahun), perempuan Indonesia yang berkarya di dunia relawan pendidikan juga membuka besar peluang belajar. Meski begitu, target utama Ainun adalah netizen yang ingin menambah ilmu mereka.

Lewat Akademi Berbagi, Ainun memperjuangkan mimpi tentang taman belajar, tempat semua orang bisa datang, belajar secara gratis, dan mendapatkan ilmu dengan gembira. Akademi itu menjadi sebuah “pelarian” dari situasi pendidikan yang masih diskriminatif, tersekat, dan tak mudah diakses seluruh warga negara secara murah (Kompas, 4/12/2014).

Akademi berbagi dimulai ketika Ainun Chomsun sedang berguru teknik penulisan naskah periklanan dengan Subiakto, seorang penulis naskah iklan lewat twitter yang membahas teknik copy writing.

Ketika ditanya di mana belajar copy writing, Subiakto malah bersedia membagi ilmu dan menyediakan ruang di kantornya secara gratis. Ainun pun mengajak orang lain dan terkumpullah sekitar 20 orang.

“Beri kaki pada mimpi agar turun ke bumi dan berlari. Jangan biarkan di awang-awang, kemudian terbang dan menghilang,” – Ainun Chomsun

Ainun menggunakan telepon, pesan singkat, dan media sosial untuk mencari pengajar dan tempat belajar, serta menyebarkan jadwal kegiatan. Ide membuat Akademi Berbagi (Akber) semakin nyata. Kelas Akber semakin sering digelar dengan tema beragam, tetapi tempatnya berpindah.Lewat Twitter dia menyebarkan infonya.

Tidak hanya menarik minat pencari ilmu, ide kelas gratis yang dimulai di sebuah perkantoran di Jalan Wolter Monginsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu juga menarik perhatian pengajar. Sejumlah praktisi dari beragam latar menyatakan minat untuk berbagi pengalaman dan keahlian.

Akhirnya, Akber tumbuh di kota-kota lain dan menjadi rumah bagi komunitas pembelajar dan menjadi ruang bagi para relawan pendidikan dan profesional untuk mengajar. Tema-tema materi ajar pun disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi daerah.