Dalam dunia medis, penyakit kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia dan tidak dapat diprediksi. Harapan menjadi faktor penentu hidup yang juga kuat diiringi terapi dan pengobatan klinis.

Untuk itu, sejumlah anak-anak muda di Jabodetabek terlibat langsung dalam menularkan harapan dan semangat hidup kepada penderita kanker dan keluarganya. Mereka juga mensosialisasikan tentang penyakit kanker, cara penanggulangan, dan pencegahannya melalui gerakan Gelang Harapan (Bracelet of Hope).

Masing-masing relawan ataupun duta kanker yang disebut sebagai Warrior of Hope itu memiliki alasannya masing-masing. Apa saja, ya alasannya? Inilah motivasi anak-anak muda tersebut dalam melawan kanker.

Menjalankan Peran Mahasiswa

Yoga Permana (21 tahun) menyatakan ikut serta sebagai duta kanker untuk menjalankan peran sosial mahasiswa sebagai agen pengubah. Yoga ingin mengubah pola pikir masyarakat terhadap penyakit kanker.

Kanker bukan hanya penyakit keturunan atau penyakit orang kaya. Penyakit ini dapat menyerang siapapun yang pola hidupnya tidak sehat. “Oleh karena itu, gue ingin menyadarkan masyarakat bahwa siapapun bisa terkena penyakit ini. Maka dari itu, pola hidup sehat perlu mereka semua jalankan untuk mencegah penyakitnya,” kata Yoga.

Membuat Orang Lain Tidak Mengalami Pengalaman Buruknya

Ibu Angkat Ariya Dharma merupakan salah satu pasien kanker payudara. Untuk itu, pria jurusan Broadcast Universitas Mercu Buana ini ikut terlibat langsung sebagai duta kanker yang mengajak masyarakat memiliki pola hidup sehat dan peduli dengan penderita kanker.

“Gue ingin tidak ada orang lain yang merasakan seperti apa yang gue rasakan. Itu, sih, yang paling penting,” kata Ariya menjelaskan motivasinya menjadi relawan kanker dan bergabung dengan gerakan Bracelet of Hope.

Lebih Tahu Soal Kanker

“Kanker itu bisa menyerang seseorang, kan karena orang itu belum paham bahwa pola hidupnya kurang sehat. Jadi, saya ingin terlibat supaya bisa menyadakan orang-orang yang belum terkena kanker,” kata Nurul Hardiyanti (19 tahun).

Mahasiswi jurusan Public Relation Universitas Mercu Buana itu awalnya ingin tahu lebih banyak soal seluk-beluk kanker, sehingga dia ikut serta sebagai duta kanker. Setelah tahu bahayanya pola hidup tidak sehat terhadap penyakit kanker, dia ingin menyebarkan pengetahuannya ke masyarakat lewat orang terdekat.

Menyebar Kebaikan

Bagi Dialaela Assadiyah (20 tahun), menyebar kebaikan lah yang penting. Itu menjadi alasannya ikut sebagai duta kanker. Baginya, tidak masalah seberapa besar yang dilakukan seseorang selama itu membawa kebaikan.

“Meskipun kecil, itu pasti berguna asalkan membawa kebaikan. Perubahan pasti akan menyusul,” kata mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Pamulang (Unpam) menjelaskan motivasinya mengikuti kegiatan relawan ini. Selain itu, perempuan yang akrab dipanggil Diah ini juga ingin terlibat dalam sebuah perubahan positif.

Terlibat dalam Perubahan

Perubahan positif memang sebuah hal yang menarik minat semua orang, apalagi anak-anak muda. Leni Lanisi (19 tahun) pun tertarik untuk menjadi bagian dari perubahan positif, sehingga dia bergabung sebagai duta kanker.

“Aku ingin lebih jauh lagi terlibat menambah kesadaran masyarakat terhadap isu penting seperti ini,” kata Leni menegaskan alasannya. Pasalnya, menurut Leni kanker merupakan penyakit paling mematikan namun paling belum dipahami masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, dia melakukan apapun yang dia bisa untuk mensosialisasikan tentang penyakit kanker, cara penyembuhan, dan cara mencegahnya.

Mencegah Bencana

“Menyadarkan masyarakat bahwa kanker itu bahaya dan menyerang siapa saja jadi langkah awal untuk membuat penyakit itu bisa ditanggulangi lebih dini,” kata Adam Nugroho (23 tahun) yakin.

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Pamulang ini bertekad membuat korban kanker berkurang. Alasan pribadinya yang senang membantu pun jadi motivasinya untuk bergabung dalam gerakan-gerakan peduli kanker.