Seusai fajar ku rapihkan jemari kecilku.

Dari tinta-tinta bekas seonggok coretan pada kertas

Ku rangkai satu demi satu sajak sajak dingin yang hampir mati

Jemari ku penuh pita darah yang menghitam

Sisa menyambung nafas mereka

Yang kutemukan di reruntuhan langit

Sesak tak berdaya, ku bawa pulang selagi belum basah oleh air mata pepuisi

Layaknya mereka sajak sajak tak bertuan

Tak berpenghuni, yang ditinggalkan sia sia

Kini lama sudah tersimpan sajak sajak itu dalam dadaku yang membara

Yang tidak lagi menunggu untuk diselamatkan

Ku terbangkan mereka ke langit baru

Agar dibaca bumi dan surga, sebagai pencitraan alami para pujangga malam

Aku memang tak pandai mengumpulkan jutaan bahasa aksara

Tapi aku tak pernah berhenti mencerna puisi puisi kecilku

Tak habis jemari ku mengais bait bait sederhana

Dan tak habis otak ku memuat syair syair pelipur lara

Demikian cara ku menikmati setiap nyawa hidupku

Di atas lembaran akasara cinta